JAKARTA - Lantai 10 yang diperuntukkan khusus bagi Ketua DPRD DKI Jakarta terus mendapat penolakan dari anggota dewan yang lain. Ruangan seluas 1.200 meter persegi tersebut dinilai pemborosan jika hanya digunakan oleh satu orang.
Ruangan Ketua DPRD DKI pun dinilai jauh lebih besar ketimbang ruangan Presiden.
Menurut Ketua Fraksi Partai Gerindra yang juga anggota komisi D DPRD DKI, M Sanusi, perubahan layout lantai 10 itu tanpa diketahui oleh anggota dewan lainnya.
"Lantai 10 itu luasnya 1.200 meter persegi. Satu lantai sendirian, bisa buat main mini golf. Ada apa ini? Ruangan Ketua Dewan lebih besar dari ruangan Presiden. Ruang Presiden saja kalah, apalagi ruangan Gubernur," ujar Sanusi, Kamis (7/6/2012) saat meninjau gedung baru DPRD DKI bersama anggota dewan lainnya.
Sanusi menuturkan ruangan seluas itu untuk satu orang merupakan pemborosan, karena listrik yang dipakai untuk menyalakan AC dan perlengkapan lainnya menjadi tidak terpakai. Dikatakannya, perubahan layout sepihak di lantai 10 gedung baru dinilai sangat melanggar kaidah-kaidah ekonomi.
"Katanya mau bangun green building, namun nyatanya pemborosan. Tanpa diajak berbicara, tiba-tiba ada perubahan layout. Saya sudah sampaikan kepada Ketua Fraksi lainnya, dan mereka sepakat untuk tidak menggunakan gedung baru sebelum ada pembaharuan. Yang sudah setuju dari Fraksi PKS, Golkar, PDI Perjuangan, Gerindra, Hanura, serta PAN-PKB," katanya.
Sanusi pun menilai lantai 10 itu sebenarnya bisa ditambahkan ruangan untuk empat wakil dewan lainnya yang pada layout perubahan berada di lantai sembilan. Menurutnya penggunaan dua lantai untuk pimpinan dewan, mengorbankan ruang anggota dewan lainnya.
"Ruang anggota dewan dipadatkan karena dua lantai dikorbankan. Kalau bicara 2014 nanti anggota dewan bertambah bisa lebih dari 100 orang, kan bisa nanti. Yang sekarang ini pemborosan," pungkasnya.