Polisi Incar Pelolos Sabu 351 Kg

Selasa, 29 Mei 2012

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Untung S Rajab mengatakan akan menindak tegas oknum petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang terbukti membantu menyelundupkan sabu-sabu seberat 351 kilogram melalui Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Di negara ini tidak ada orang yang kebal hukum, semua kalau ada bukti kejahatan kami periksa dan sidik," kata Untung, Selasa 29 Mei 2012.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menyebutkan, sejauh ini petugas Bea Cukai hanya menerapkan sistem acak (random) untuk memeriksa kiriman paket melalui peti kemas.
Polisi akan mempertanyakan prosedur pemeriksaan yang sebenarnya kepada Direktorat Jenderal Bea Cukai. "Sistem pemeriksaannya masih manual dan tidak menggunakan alat detektor (sinar-X)," kata Rikwanto.

Dirjen Bea Cukai dipanggil
Komisi XI DPR dalam waktu dekat akan memanggil Direkur Jenderal Bea Cukai untuk meminta penjelasan terkait lolosnya sabu-sabu ini. Menurut anggota komisi XI dari PDIP Maruarar Sirait, perlu pengkajian serius lolosnya narkotika dalam skala besar ini. Kondisi ini juga aneh, mengingat Ditjen Bea cukai telah melakukan reformasi birokrasi untuk lebih profesional.

Maruarar mengatakan, terbongkarnya kasus ini juga terlihat adanya kurang koordinasi antar sektor seperti di pelabuhan atau bandara. "Meski banyak mencatat prestasi, namun Maruarar masih merasa perlu dilakukan pembenahan di Direktorat Bea Cukai," katanya.

Sebelumnya, Petugas Polda Metro Jaya menggagalkan peredaran sabu seberat 351 kg dan menangkap empat tersangka, berinisial AK, DR, MW alias A, dan seorang warga Malaysia, EWH alias J dalam kurun waktu 2-9 Mei di beberapa lokasi di Jakarta dan sekitarnya.

Sabu senilai Rp702 miliar itu dapat dikonsumsi sebanyak 35 juta orang dan akan diedarkan ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya dan Manado. Salah satu tersangka mengaku menyelundupkan sabu dari China melalui Malaysia menuju Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok.

Stres Tak Bekerja, Ambari Nekat Gantung Diri

Senin, 21 Mei 2012

MEDAN - Diduga mengalami stres akibat ribut dengan sang istri, M Ambari (31) warga Jalan Sei Kera Gang Pinang Medan Timur nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri didalam kamar dengan menggunakan seutas tali nilon, Senin (21/5/2012). 

Informasi yang dihimpun di Polsek Medan Timur, korban yang saat itu berada didalam rumah, tewas mengenaskan dengan leher terlilit dengan tali nilon yang diikat di sebuah kusen pintu di joglo belakang rumah milik orang tuanya itu.

Korban ditemukan oleh Surya (35), abang ipar korban. Berawal ketika Surya bersama kakak korban dan ibu korban hendak masuk kedalam rumah. Namun tiba di depan gerbang, terlihat pintu gerbang itu terkunci dengan gembok.

Dari sana, Surya dan kakak korban pun memanggil-manggil korban guna membuka pintu. Hingga setengah jam dipanggil, korban tak juga keluar membuka pintu pagar besi berwarna hitam tersebut. Merasa curiga, Surya pun melompati gerbang mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Berhasil melompati pagar, Surya pun coba membuka pintu utama rumah. Ketika dibuka pintu dalam keadaan tak terkunci, sedangkan korban sendiri tak didapati berada didalam, begitupun di dalam kamarnya. Semakin penasaran, Surya coba melihat ke belakang rumah. Terkejut bukan main, Surya mendapati korban sudah tak bernyawa dengan kondisi tubuh tergantung.

Menurut pengakuan keluarga korban, Ambaria bapak dua anak ini, sudah beberapa bulan terakhir tidak mempunyai kerja dan sempat betengkar dengan sang istri Lia.

"Dia sempat aku melihat bertengkar dengan istrinya dan sudah tidak kerja lagi dia sekarang," ungkap kakak kandung korban, Dewi Marini.

Tak lama kepolisian dari Polsekta Medan Timur terjun lokasi untuk melakukan identifikasi dengan menerjunkan tim identifikasi dari Mapolresta Medan. Dari identifikasi, korban murni tewas gantung diri, lidah menjulur keluar, dari alat kelamin mengeluarkan sperma. Tak ditemukan luka kekerasan di sekujur tubuh jasad Ambari.

Setelah dilakukan indentifikasi, pihak keluarga tidak mengizinkan pihak kepolisian untuk dilakukan otopsi terhadap jasad Ambari di rumah sakit. Pihak kepolisian menyetujuinya dengan membuat pernyataan bahwa jasad Ambari tidak dilakukan otopsi yang disaksikan oleh kepala lingkungan setempat.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Timur, AKP Ridwan membenarkan kejadian itu. Tewasnya Ambari murni gantung diri dan tidak ditemukan kekerasan terhadap tubuh jasad Ambari di lokasi.

"Iya, korban tewas dengan gantung diri, tanpa ada ditemukan kekerasan terhadap jasad korban," terangnya.
Ridwan mengatakan pihaknya sudah melakukan identifikasi terhadap jasad korban dan lokasi penemuan jasad Ambari."Kita sudah melakukan identifikasi dan memintai keterangan sejumlah anggota keluarga atas kejadian ini," ujarnya.

TNI akan Tarik Anggotanya dari Gunung Salak

JAKARTA - Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, anggota TNI yang membantu evakuasi korban pesawat Sukhoi SuperJet 100 akan ditarik dalam waktu dekat.

"Rencananya, jika beberapa hari ini akan selesai, akan kami tarik anggota kami," ujar Agus sesaat sebelum menghadiri acara Pengukuhan Pengurus Pusat Generasi Muda FKPPI di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Senin (21/5/2012).

Agus menjelaskan, penarikan anggota TNI tersebut lantaran keberadaan tim SAR di Gunung Salak dinilai sudah cukup.

"Karena begini ya, secara umum tugas evakuasi sudah cukup oleh Basarnas. Mungkin tinggal satu tim (TNI) saja yang disisakan," terangnya.

Meski demikian, Agus mengingatkan, penarikan anggota TNI dalam evakuasi Sukhoi sepenuhnya tergantung dari hasil evaluasi kerja yang dipimpin Kepala Basarnas, Marsekal Madya Daryatmo.

"Tapi semua itu tergantung evaluasi dari Kabasarnas," kata Agus.

Jasad Jurnalis TransTV Sedang Diidentifikasi

Kamis, 17 Mei 2012

Jasad cameraperson TransTV, Aditya Sukardi, saat ini tengah diperiksa di Rumah Sakit Polri Kramatjati. Jasad Aditya dipastikan ditemukan oleh tim SAR kemarin karena saat ditemukan kondisi jasad Aditya relatif  lebih baik dibanding korban Sukhoi lainnya.

Selain itu, pakaian yang dikenakan sesuai dengan pakaian kerja yang biasa digunakan, yakni berupa kemeja hitam dengan logo TransTV di lengan. Dan semua jenazah yang ditemukan kemarin telah dikirim ke rumah sakit.

"Sedang diperiksa, sekarang sedang diperiksa di belakang oleh, ahli-ahli forensik kita," kata Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigjen Musadeq Ishak di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis 17 Mei 2012.

Meski begitu, kata Musadeq, dirinya belum memastikan jasad itu adalah Aditya. "Kami belum tahu."

Tim evakuasi gabungan menemukan jasad Aditya sekitar pukul 10.30 WIB di kedalaman 300 meter lagi dari posisi puing pesawat. Selain dari seragam TransTV, ciri-ciri jasad yang diduga Aditya itu diketahui dari postur tubuh. Ciri fisik bagian atas yang tidak berpayudara menguatkan bahwa itu adalah Aditya.

Dua jurnalis TransTV, Aditya Sukardi dan reporter Ismiati Soenarto merupakan penumpang Sukhoi yang jatuh pada Rabu petang 9 Mei 2012. Kemarin, tim juga berhasil menemukan wanita berpakaian hitam. Tetapi di baju jasad wanita itu itu tidak terlihat logo TransTV atau gambar lainnya. Sehingga belum bisa dipastikan bahwa itu adalah jasad reporter TransTV Ismiati Soenarto.

30 Kantong Jenazah

Sampai hari ini, sudah sembilan hari tim SAR telah mencari jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superket 100. Sudah 30 kantong jenazah terkumpul di Rumah Sakit Polri Kramatjati, selain kantong berisi jenazah, RS Polri juga tengah mengidentifikasi 5 kantong berisi properti.

Dari ke 30 kantong yang telah diperiksa, hanya satu jenazah yang berhasil diidentifikasi. "Sampai saat ini sidah diumumkan baru satu jenazah yang teridentifikasi." Kata dia. Meski demikian, Musadeq enggan mengumumkan identitas jenazah yang berhasil diidentifikasi.

"Tapi secara etika belum mengumumkan itu. Nanti pada saatnya pasti akan kami umumkan," kata dia.

Dua Wartawan Tersesat Dipandu Tim SAR

Jumat, 11 Mei 2012

Dua wartawan yang tersesat di Gunung Salak pada saat evakuasi korban Sukhoi Superjet 100 dipandu turun oleh tim SAR. Kedua wartawan yang diketahui bernama Ray Jordan (Detik.com) dan Ade (Bali Post) berkomunikasi dengan tim SAR dengan cara saling berteriak.

Salah seorang petugas SAR di Posko Embrio Penangkaran Sapi, Desa Cipelang, Bogor, Jumat malam, 11 Mei 2012 menerima laporan dari handy talky sekitar pukul 20.20 WIB.
Dalam laporan itu dikatakan Jordan bersama Ade berada di lembah di ketinggian 1.700 mdpl (meter dari permukaan laut). Sementara itu, tim SAR berada di atas posisi kedua wartawan itu. Jarak ketinggiannya cukup tinggi.

Selain itu, tim SAR meminta agar dua wartawan itu berjalan mengikuti cahaya senter yang disorot ke bawah. Dengan harapan, Jordan dan Ade dapat berjalan naik ke atas bertemu tim SAR.
"Sebelumnya, mereka sahut-sahutan dengan suara kurang jelas. Kalau sekarang sudah mulai jelas. Artinya jarak dari bawah dengan tim SAR sudah dekat," kata salah seorang petugas SAR.

Namun, hingga saat ini, belum ada informasi bahwa tim SAR sudah bertemu secara fisik dengan Jordan dan Ade. Jordan dan Ade diketahui tersesat setelah ada pesan pendek dari Jordan yang diterima wartawan VIVAnews, Oscar Ferri yang berada di Posko Embrio Gunung Salak.
Jordan bertanya posisi Oscar berada di mana. Ia menulis "Lo dimana?? Gw nyasar sama Ade Balipos. Ini lagi saut-sautan sama SAR. Kondisi aman... doakan ya".
Jordan mengirimkan pesan melalui BlackBerry Messenger pada pukul 16.33 WIB. Jordan kembali mengirim pesan ke Oscar pada pukul 16.44 WIB. "Gw kesasar car. Kondisi aman".

Setelah mengirimkan pesan itu, ponsel Jordan tidak bisa dihubungi. Kemungkinan karena tidak mendapat sinyal atau baterai habis.

Sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WIB, salah seorang petugas SAR yang berada di Posko Embrio memberi tahu bahwa ada dua wartawan yang tersesat di atas. "Salah satunya bilang dia wartawan Detik.com," katanya.

Sementara itu, salah seorang juru kamera ANTV, Juju mengatakan, dia sempat mendaki naik bersama wartawan Detik.com. "Tapi, saya tidak tahu namanya. Kemudian di tengah jalan saya turun, dia lanjut bersama rombongan," kata Juju.

Dari pembicaraan yang dikutip melalui handy talky tim SAR, dua wartawan yang tersesat itu tertinggal dengan rombongan tim SAR. Karena tertinggal, keduanya memutuskan untuk mengejarnya, namun gagal.

Jordan diketahui naik bersama tim Charlie yang diperbantukan untuk mengevakuasi korban Sukhoi Superjet 100, Jumat 11 Mei 2012, sekitar pukul 06.00 WIB. Tim Charlie adalah tim evakuasi ketiga setelah Tim Alpha dan Tim Bravo yang sudah lebih dulu berangkat.

Ayah Perkosa Anak Kandungnya Hingga 7 Kali

Rabu, 09 Mei 2012

MAKASSAR - Seorang ayah di Makassar, Sulawesi Selatan tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Perbuatan bejat sang ayah tersebut dilakukan sebanyak tujuh kali. Korban pun diancam akan dibunuh oleh sang ayah jika melaporkan perbuatan bejat tersebut.

Jefry Mangka, ayah dua orang anak ini tega memperkosa ID (19) anak kandungnya di rumah pelaku, Jalan Toddopuli III, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

Peristiwa ini bermula ketika pelaku yang telah lama ditinggal pergi oleh istrinya itu mengetahui jika korban telah tidur dengan pacarnya dan sudah tidak perawan lagi.

Korban sempat kabur dari rumah pelaku selama dua hari, namun pelaku mendapati korban sedang berada dirumah pacarnya. Kesal mengetahui korban tak perawan lagi, pelaku akhirnya memperkosa korban sebanyak tujuh kali dalam kurun waktu tiga hari.

Korban tak mampu mencegah keinginan sang ayah lantaran diancam akan dibunuh jika melaporkan perbuatan bejatnya tersebut.

Aparat polisi dari Polsekta Panakkukang yang bergerak cepat langsung meringkus pelaku dirumahnya Senin (7/5/2012) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelaku diancam Pasal 285 dengan ancaman maksimal tujuh tahun penjara.

Nunun Divonis 2,5 Tahun Penjara

JAKARTA — Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan hukuman dua tahun enam bulan penjara terhadap Nunun Nurbaeti, terdakwa kasus suap cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 (DGSBI 2004).

Nunun dianggap terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi suap ke sejumlah anggota DPR 1999-2004 terkait pemenangan Miranda S Goeltom sebagai DGSBI 2004.

Selain hukuman penjara, istri mantan Wakil Kepala Polri, Komjen (Purn) Adang Daradjatun, itu diharuskan membayar denda Rp 150 juta yang dapat diganti kurungan tiga bulan.

Putusan tersebut dibacakan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta (majelis hakim Tipikor Jakarta) yang terdiri dari Sudjatmiko (ketua), Eka Budi Prijatna, Ugo, Sofialdi, dan hakim Anwar, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (9/5/2012).

"Menyatakan terdakwa Nunun Nurbaeti terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat 1 huruf b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dalam dakwaan pertama," kata Sudjatmiko.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta Nunun dihukum empat tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan. Adapun hal yang memberatkan Nunun adalah, dia dianggap tidak mendukung pemerintah dalam menyelenggarakan negara yang bersih dan tidak merasa bersalah melakukan tindak pidana. Adapun yang meringankan, Nunun berlaku sopan selama persidangan, belum pernah dihukum sebelumnya, berusia lanjut, dan memiliki riwayat penyakit.

Mendengarkan putusan ini dibacakan, Nunun yang duduk di kursi terdakwa itu tampak tenang dan menunduk.

Majelis hakim menguraikan, pada 8 Juni 2004, Nunun memberi suap dalam bentuk cek perjalanan senilai total Rp 20,8 miliar kepada sejumlah anggota DPR 1999-2004 melalui Arie Malangjudo. Cek tersebut merupakan bagian dari total 480 lembar cek BII senilai Rp 24 miliar yang diberikan kepada anggota DPR periode 1999-2004, antara lain Hamka Yandhu (Fraksi Partai Golkar), Dudhie Makmun Murod, Endin AJ Soefihara, dan Udju Juhaeri.

Sehari sebelumnya, tepatnya 7 Juni 2004, Nunun mengadakan pertemuan dengan Hamka Yandhu dan Arie di kantor Nunun di Jalan Riau Nomor 17, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Nunun meminta saksi Arie membantunya menyerahkan tanda terima kasih kepada anggota dewan.

"Saya ingin Pak Arie membantu saya sampaikan terima kasih ke anggota dewan," kata hakim Eka Budi menirukan perkataan Nunun kepada Arie saat itu.

Setelah Arie setuju, seraya menunjuk Hamka, Nunun berkata, "Nanti bapak ini yang akan mengatur semuanya." Hamka pun mengatakan, nanti akan ada tas belanja berisi cek perjalanan dengan kode merah, kuning, hijau, dan putih, yang ditujukan untuk anggota dewan.

"Terdakwa (Nunun) kemudian menambahkan, nanti akan ada orang yang mengambil. Nanti kamu dihubungi," tambah hakim Eka Budi. Beberapa lama kemudian, Arie dihubungi anggota-anggota dewan yang meminta jatah cek masing-masing.

Sebelum pembagian cek tersebut atau sebelum pelaksanaan uji kepatutan dan kelayakan DGSBI 2004, Nunun mengadakan pertemuan dengan Miranda. Saat itu, Miranda dukungan Nunun, dan minta diperkenalkan dengan anggota DPR 1999-2004 yang dikenal Nunun.

"Terdakwa (Nunun) pun menyanggupi dan akan membicarakan dengan orang-orang yang terdakwa kenal," kata hakim Eka Budi Prijatna. Nunun juga memfasilitasi pertemuan Miranda dengan Hamka, Endin, Paskah, di rumah terdakwa, di Cipete, Jakarta.

"Meskipun menurut terdakwa (Nunun), dirinya tidak ikut terlibat dalam pembicaraan," tambah Eka Budi. Seusai acara pertemuan di Cipete tersebut, Nunun mendengar ada yang menyampaikan, "Ini bukan proyek thank you, ya."

Pak Tarno Ditipu Manajer dan Sopir

Pak Tarno, pesulap kondang yang selalu menyebutkan mantranya "sim salabim jadi apa, prok ... prok ... prok", mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Jakarta Utara, hari ini, Rabu 9 Mei 2012.
 
Kedatangannya ke kantor polisi untuk melaporkan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan manajer dan sopirnya. "Mereka (pelaku) adalah pasangan suami istri," ujar Slamet, rekan Pak Tarno yang mendampinginya di Polres Jakarta Utara .

Kasus tersebut, berawal ketika Pak Tarno berniat membeli mobil Toyota Avanza dengan cara kredit melalui pasangan suami istri tersebut. Menurut Pak Tarno, hingga saat ini, ia belum juga mendapatkan mobil impiannya.
"Saya sudah menyerahkan uang cash sebesar Rp50 juta kepada mereka di Bank Mega Kelapa Gading. Lalu lewat transfer sebesar Rp50 juta dari Bank Mandiri. Keduanya dilakukan setahun yang lalu," kata Pak Tarno.

Namun, dia menambahkan, kendaraan roda empat tersebut juga belum di tangan. Sang sopir dan manajernya justru menghilang tanpa ada kabar yang jelas.
"Tolong dibantu ya teman-teman," tutur Pak Tarno kepada wartawan saat menuju ruang pemeriksaan petugas.